#random

Mengalah.
Menahan.
Mengerti.
Membuat permakluman-permakluman sendiri.
Sabar.
InssyaAllah, ga akan lupa sama komitmen. Mungkin sekarang ranah nya jadi meluas.
Hah. Sama aja lah. Menjadi air untuk apapun-siapapun-dimanapun-kapanpun.
Inget aja di,
....sesuatu yang disampaikan dengan hati, akan sampai ke hati juga.
Dan ketika mulai lelah, inget juga,
.... harus mampu menenangkan walau dalam keadaan tidak tenang
 Teh Cune&Teh Arin quote nya te-o-pe begete lah ;)
***

Harus segera pamit mengerjakan se abreg tugas! Eh tapi tiba-tiba, gue jadi inget percakapan sepotong di selot tadi sore. Agak random dari penggalan kalimat-kalimat di atas sih.

Seorang teman berkata, "Gue tau sih konsekuensi dari gue melakukan ini itu apa, tapi gue memang ga mau 'dipaksa' mengerjakan apa-apa yang ga sesuai sama kemauan-keinginan gue. Passion gue bukan belajar." Menarik. Gue nyeletuk, "Kalo gitu ngapain sekolah dong?", menurutnya, "Sekolah itu wajib belajar. Cuman sebagai batu loncatan; formalitas belaka. Sistem pendidikan Indonesia yang ngebuat kita wajib sekolah kan?"

Gue diem. Agak-agak sedikit membenarkan. Iya sih,iya... gue memang menemukan banyak hal yang jauh lebih menyenangkan ketimbang belajar di tempat yang bernama sekolah juga,anehnya. Tapi, mengingat..... mengingat mamah&papah yang udah kerja keras untuk gue sekolah, menitipkan banyak impiannya ke tangan gue. Mengingat begitu banyak orang yang tidak sekolah-padahal ingin sekolah.

Mengingat kita yang dengan mudahnya difasilitasi untuk belajar di sekolah,
......boleh minta, jalani saja?
Hihi. cuman opini ko. Just saying aja :)

***

Belum bisa konsen ke tugas. Yang satu ini masih jadi distraksi. Abstrak emang. Cuman, cuman cuman ....... pengen nanya aja.

apa semudah itu mengambil kesimpulan-menyerah - lalu berpindah yah?

*exit*

sepenggal-sepotong.

Gue belum mengucapkan apa-apa tentang kesan pesan SMANSADAY 2012.
Tidak sempat berkoar di twitter tentang betapa lega nya melalui 2 bulan rangkaian acara ini.
Belum sempat posting di blog tentang perjalanan lika-liku nya smansaday.
Ini mau sih, tapi.......... nggak bisa. Jujur, nggak bisa di ungkap kan dengan kata-kata.
Rasanya bingung harus memulai dari mana, mengingat mana bagian yang paling menarik untuk diceritakan kembali. Karena buat gue, cerita 5 bulan terakhir ini cukup di simpan saja.
1 kata mungkin yah, Alhamdulillah. 
Gue yakin, Cakrawala bisa. Dan memang bisa, kan? (:


***
Cuman sepenggal, sepotong.

"Ini rabes terakhir kita, ini terakhir kali kita ngomongin smansaday, ini smansaday pertama dan terakhir nya cakrawala" berulang kali kalimat itu di ucapkan. Berulang kali juga rasanya gue mencoba tidak menggubris kalimat ini. Kalimat pertama dan terakhir-nya.

"Tenang aja, ini bukan soal guest star kok. Asal kita ngemas nya bagus, gue yakin bakal bagus juga. Gue yakin. Tapi gue butuh kalian juga untuk yakin.... " Gue. Berbicara. Menatap satu per satu mata yang ragu; lambat laun menatap pasti. Ah....... jangan netes sekarang.

"...Gue tuh ngga ngerti kenapa gue harus segininya, kenapa jadi gini.." sepenggal percakapan di yahoo messenger. Sementara gue terus sibuk tumpah, yang disana juga sibuk mencari nasehat yang pas mungkin. Sayangnya, tidak gue gubris satu pun nasehatnya- karena sejujurnya, saat itu gue hanya butuh tempat tumpah; dan berkali-kali juga orang ini ketumpahan. Hahaha. 

"...bisa kan di, ngga ngeluh?" pertanyaan malam itu, simple. To the point. Meruntuhkan pertahanan yang awalnya memang sudah rapuh. Sahabat yang gue pikir biasa melihat gue seperti ini - ternyata jenuh juga melihat gue mengeluh terus. Berkali-kali buzz. Permohonan maaf dari seberang sana. Gue.... *offline* *matiin lampu* *tutupin bantal* -- tapi 'tamparan' dari sahabat yang satu ini memang selalu dan selalu paling pasti :)

"Mah, kalau adek nggak masuk hari ini gimana?" --Hahahaha. Sekolah, pernah jadi tempat yang paling menyeramkan buat gue; saat itu.

"...emang ada ulangan apa bil? ko gue ga tau?" ; Nabila, yang mendengar hanya memandang prihatin. Mengerti kalau teman di hadapannya memang benar-benar sedang putus sekolah.

"Sabar,di.....tenang " seseorang di kelas menggeser bangku nya, mengambil buku lalu mengipas-ngipaskan bukunya ke arah gue, menepuk bahu gue.

"Indi....kenapaaa????" lima orang teman yang duduknya berdekatan dengan gue seringkali bertanya gue-kenapa. Padahal sebenarnya, mereka sepertinya yang paling tau tentang apa.

"Istighfar di, semua bakal baik-baik aja...." --ketua satu gue. Tersenyum lalu mengambil posisi untuk siap mendengarkan celotehan saat itu. 

"Tenang aja di, kita pasti bisa ko!" --partner baru, sama-sama moodyan; rasanya senang luar biasa bisa memberikan ilmu baru yang sesuatu buat anak ini.

"Teh indii, peluk teh indi cobaa yah teh indi sini aku peluk" seorang adik yang sering gue bully.

"..di, mukanya bisa kan biasa aja?" Nah, kalau yang ini sering! hahaha.

"Semangat yah,indi. Semangat.... semangat...semangat" kalau yang ini sepertinya kalimat wajib bukan? Tidak, gue tidak pernah bosan mendengarnya :)

Dan masih banyak-amat banyak lagi :)

***

Ketika guest star hampir selesai menyanyikan lagu terakhirnya, gue ada di lantai 3. Dengan beberapa orang teman selesai menyelesaikan tugas menurunkan hujan balon; gue masih berdiri; mencoba mengamati apa yang terjadi di bawah dari lantai atas.

Gue melihat.... kerumunan orang, panggung, balon-balon,......... 
Gue melihat ke atas. Langit cerah. 
Sadar, ada yang menetes. Dan rasanya benar-benar aneh ini hampir usai 

***

Hari ini, hari pertama ke sekolah tanpa rutinitas smansaday.
" Eh jangan lupa yah besok rabes, eh danu, eh gimana logistik, eh rundown ampe mana?"
Gue anggap itu celetukan-celetukan kangen. Hahahaha.
Yang paling aneh, saat pulang. Obrolan nya memang sudah beda topik. Tapi yang ini sebelumnya memang belum pernah disentuh sama sekali, dan rasanya menyentuh topik ini....... seperti dibangunkan kalau gue sebentar lagi, tiba di tahun menitipkan. 

***



Mungkin sebenarnya aku hanya tidak mengenali medan.
melangkah di atas tanah yang tidak aku kenali. 
Aku tidak bisa menentukan kapan aku menemukan - dan mungkin ditemukan.
Atau mungkin, aku salah menempatkan diriku di suatu tempat? 
Namun, mendapatkan sesuatu dengan tepat itu tidak mudah.
Seperti kita harus menyelam laut untuk menemukan mutiara.
Mungkin aku pun hanya harus bisa kembali ke daratan setelah aku menemukan mutiara di dasar laut.
Kembali ke tempat asal muasal. Ke tempat sebelum aku pernah mencoba berpijak.


Aku kira memang perlu ada pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab,
Karena mungkin tak perlu lagi ada jawab.
Namun waktu selalu memiliki jawaban.Seperti apa yang tengah dia berikan sekarang.
Hah.
Aku mafhum, ketanpaan selalu dekat dengan kebingungan.
Dan aku pun percaya, " Setiap orang memiliki batas untuk memperjuangkan sesuatu"


Ketidakmampuan mematahkan pepatah untuk melangkah membuat ku mengerti.
Bahwa ini bukan lagi di persimpangan, tapi kita sudah sampai.




Dan harusnya aku tidak perlu lagi merasa sakit.
Karena memang selalu ada gores yang ditinggalkan asa yang pergi tanpa permisi.


Struggle.

Buat gue, yang paling menyenangkan dari jalan-jalan adalah perjalanannya. 
Bukan tempat tujuannya.
Seringkali yang kita ingat selepas rekreasi bukan bagaimana kita di tempat tujuan.
Tapi bagaimana kita untuk sampai ke tempat tujuan.
Mungkin, lempeng-lempeng aja sampai tempat tujuan itu kurang seru. Ga ada tantangannya.
Mungkin, nyasar-nyasar untuk sampai tempat tujuan itu yang seru.
Tanpa kita sadari, banyak cerita dari tempat transit kita pas nyasar.
Cerita yang mungkin malah paling lu inget selepas perjalanan.


Simple nya,
yang paling menyenangkan dari sebuah hasil, adalah prosesnya.


***
Gue, ketika nyemplung ke proses yang satu ini, tanpa bekal apa-apa. Malah ngerasa jadi pilihan terakhir untuk salah satu tempat yang paling penting. 
Dari semua banyak lika-liku proses ini, hal yang paling menarik adalah review.
Bagaimana gue mencoba mengingat satu per satu puzzle cerita yang sejujurnya gue sudah hapal betul alurnya. Ada kebanggaan sendiri ketika lu bisa menilai diri lu sendiri.
Menilai sejauh mana lu belajar dari sebuah perjalanan. Ada senyum yang bisa disunggingkan, ketika lu akhirnya bisa berdiri-sendiri-saat jatuh. Berulang kali seperti itu.
Sampai tepat pada satu kesimpulan, bahwa yang bisa menguatkan diri lu adalah diri lu sendiri. Sehebat-hebat nya motivator, gue adalah motivator terhebat untuk diri gue sendiri.
Dan yang lebih penting, 
manusia itu sungguh hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan.
Jadi, jangan pernah lupa untuk kembali ke titik muasal bagaimana skenario hidup bisa tercipta. Skenario seindah ini, yang sudah tertera di Lauhul Mahfudz.
Senyaman-nyaman nya sandaran,sungguh hanya Allah tempat bersandar kita.
Satu lagi,
"Jangan kebanyakan ngeluh, jangan lupa bersyukur. Jangan pernah sekali-sekali ngerasa sendiri. Jangan pernah. Yakinlah, lu dikelilingin tangan-tangan dan kaki Allah"  
 Jatuh,bangun,jatuh,bangun,jatuh,bangun,bangun....bangun dan bangun.
 Ah, proses itu memang indah- kalau aja sesekali  diberi jeda.
Jeda yang tidak sekedar jeda, jeda untuk 'mengamati' kembali.....


Karena hidup adalah tentang memilih dan menjalani. 
***

Btw, gue punya mantra paling sakti sekaligus paling aneh bin ajaib kalau ngerasa semangat lagi ada di titik rendah.
Memang cuman ada di moment-moment tertentu, 
Tapi mantra ini punya energy positif yang bertahan lama. Apalagi ketika lu mencoba kembali membangkitkan rasa nya, apalagi ketika lu mencoba sendiri bagaimana rasanya.
Gue sih, cukup membayangkan.
Berdiri melingkar di antara 67 orang, mengepalkan tangan, menghentakkan kaki.
Seraya berteriak dengan lantang, 
"OSIS, WE'RE GONNA FIGHT FIGHT OSIS FIGHT, WE'RE GONNA WIN WIN OSIS WIN,
 WE'RE GONA FIGHT FIGHT FIGHT, WE'RE GONA WIN WIN WIN
 WE'RE OSIS SMA 1......"

dan seketika rasa nya membuncah. Ada yang lengkap. Ada yang terisi.

itu mantra gue (:


Alasan gue 'hidup' untuk saat ini.
Benar-benar hidup,benar-benar gila, dan benar-benar menakjubkan.
Terimakasih.

untuk kamu si alarm.

Teman. Bukan hanya tentang ada di saat senang; ada di saat sedih. Bukan juga hanya tentang jatuh dan bangkit bersama. Bukan hanya sama rasa-sama rata. Menjadi satu bukan hanya karena persamaan medan. Iya kan? Seengganya itu yang udah kamu ajarin,Gi.

Satu point penting. Teman, juga bisa menjadi alarm. Pengingat. Dan alarm dari mu memang sudah ke sekian kalinya,Gi. Tapi, alarm yang satu ini berbeda gi. Memporak-porandakan semua pertahanan yang memang akhir2 ini lagi lemah. Banyak yang gue sesali dari takdir ini........... takdir yang rasanya sulit banget.  Berangkat dari permintaan lu. Simpelnya,
cuman depan lu gue bisa jujur. Bisa jujur jadi diri gue sendiri.
Jadi jangan minta gue jadi orang lain. Jadi orang yang kuat. Gpp, depan orang lain ga akan lagi. Terimakasih alarm nya :) Karena lu juga gue banyak melihat ke bawah. Gue ga se pathetic itu. Gue bisa jadi siapapun depan orang lain,Gi. Tapi ga depan lu........ Jadi, biarin gue masih melihat lu untuk yang satu ini. Sama-sama saling belajar kan kita?
Kalu gitu, biarin gue belajar......untuk se kuat lu. Se ikhlas lu. Jangan dulu mengharapkan kesempurnaan dari proses ini. Jangan dulu...... Karena gue, mau ikhlas yang jujur. Setelah gue memenuhi permintaan lu.

gue bisa minta satu? Ga rumit. Gue cuman pengen lu bahagia. Dengan semua ranah yang lu miliki. Dengan semua tempat di mana lu punya status disitu. Senyaman-nyaman nya tempat ini....... mereka lah gi sesungguh nya sebenar-benarnya keluarga :) Ridho Allah ada di tangan mereka :) Jangan pernah lupakan itu :'')


Untuk semua ke kaguman yang ga pernah bisa gue sampaikan. Dari balik tubuh kecil lu, dibalik gendongan tas berat lu, di tengah suara khas lu gi...... Jelas lu memiliki sosok guru,teman, partner, sahabat. Buat gue :)


Terimakasih udah menjadikan gue orang gila malam itu. Untuk ke sekian kalinya.

Uhibbuki fillah.

Borobudur, Sabtu 25 Februari 2012

titik.

Terimakasih.
Atas apa yang dulu pernah ditawarkan,dibagi, dan dirasakan.
Sejujurnya,ini memang harus diliat dari perspektif pihak ke dua.
Mau ditanggapi seperti apa? :)
Karena buat saya, dari awal memang seperti ini.
Jadi apa yang perlu di ubah?
Buat saya rasa nya lebih lebih berharga daripada rasa yang di ekspektasikan.
Jauh, tidak bernilai malah.
Untuk itu,
anggaplah, memang....... kita lahir dan bertemu untuk seperti ini :)
Untuk menjadi yang sekarang - bersama yang lain.
Karena buat saya,
kamu
dan kamu-kamu-kamu-kamu-kamu semua.
too precious to lose.




titik.

catatan si merah dan kuning

"If you want a change, be the change you want to see"
"Tersenyum itu menunjukan keikhlasan, di..."
"Smansa ga kenal visi misi. Smansa cuma mau kenal realisasi"
"Segala sesuatu datangnya dari hati, cobalah mengubahnya dari hati kamu sendiri dulu.."

"Pemimpin itu walau dalam keadaan tidak tenang, harus mampu menenangkan"

"Seberapapun besar kamu meminta tolong kepada orang lain, sebanyak apapun motivasi yang masuk&keluar dari telinga&hati mu, cuma kamu dan hatimu yang paling mengerti keadaan kamu. Kendalikan diri kamu, jangan biarkan diri yang mengendalikanmu.. Keadaan sekarang, tekanannya, mungkin menuntut kamu sempurna.. tapi, Ndi, JADILAH SEMPURNA DALAM IKHTIARNYA, JADILAH SEMPURNA DALAM AKSINYA. Kalau hasilnya masih kurang memuaskan, Jangan lupakan nilaimu di mata-Nya, karena siapa tau yang baik belum tentu baik di mataNya, dan yang tidak baik belum tentu tidak baik di mataNya. Ikhlas,Ndi... Lillahita'ala"
***

".......Jadilah yang terbaik di siang dan malamnya......."

No Words.


Kata punya arti.
Words have the power to create, change.
The power of words is often underestimated. Our words have the power to build and destroy. 

Tanpa prolog-pembuka-preambule
Siapa yang menyepakati? Saya? Belum.
Menebak apa yang tanpa kata. 
Menebak untuk menjadi yang mana - dengan yang mana.
But sometimes, words just can't describe-explain how you feel.
Like it now.

Namun jangan membaca diam ku sama dengan diam mu. Ini berbeda.
everyone gets tired of waiting, assuming, hearing promises, saying sorry, and all the hurting.
Ketika ada ketidak-nyamanan dalam perjalanan, dan ada kesempatan untuk menoleh, membenahi..

-- would that make your life better? Would you choose an entirely different path? Or would you change just one thing? Just one moment. One moment that you’ve always wanted back.
Dan sama hal nya dengan membayangkan Saya di plot yang lain.


Saya benci merefleksikan -air yang mengalir- Seperti ketidakpastian dalam bertindak. Gamang.
--sometimes, we need to stop analyzing the past, stop planning the future, stop trying to figure out precisely how we feel, stop deciding with our mind what we want our heart to feel, and sometimes, we just have to go with “whatever happens, happens.”--
Dan membiarkan yang terjadi, terjadi lah ternyata tidak baik. Untuk saya.
Seperti tidak ada arah, padahal yang punya andil atas alur adalah Saya. Dan Tuhan.
We all get lost once in a while, sometimes by choice, sometimes due to forces beyond our control. When we learn what it is our soul needs to learn, the path presents itself. Sometimes, we see the way out but wander further and deeper despite ourselves; the fear, the anger or the sadness preventing us returning. Sometimes, we prefer to be lost and wandering, sometimes it’s easier. Sometimes, we find our own way out. But regardless, we are always found. Yeahh, we're always found.


Dan menemukan Saya yang tanpa daya masih disini, amat benci.

Karena hanya ingin tapi tanpa upaya tidak akan merubah apapun.
Sikap yang membiarkan, membuat saya muak.
2 sisi yang berbeda. Ada dalam 1 cerminan.

Saya.
Siapa yang paling tahu saya seperti apa?











via tumblr seseorang

Campur!

Ada posting yang ga bisa ditunda. Posting ini.-yang mengalahkan posting di draft yang belum gue publish- yang satu ini tidak bisa ditunda. Mengalahkan rasa senang menggelitiknya hari ini. Perasaan yang tiba-tiba membuncah beberapa detik yang lalu ga bisa ditahan hanya dengan senyum-senyum sendiri.

Apa itu? Siapa pemilik alur posting ini ;

Linea Alfa Arina! -Sekretaris Umum OSIS Pionir 10/11-


Sms nya yang tiba-tiba hampir tengah malam ini, menggelitik. Lucu. Lalu percakapan yang ga penting, sisipan-sisipan alarm nya yang ga pernah hilang. Lalu seperti mengetuk perasaan yang satu lagi. Rindu. Rindu dan sayang yang tak berkesudahan sama teteh yang satu ini :)
Rasa rindu nya begitu saja, teh. Sesak. Entah bagaimana bisa, dan sejak kapan sangat menyayangi pendahulu satu tahun ini. :) Apa kabar yang benar-benar kabar yah calon Ibu dokter ini? Apa kabar yah kakak-kakak terbaik ku? Aaaaaaaa

Akhirnya rindu yang sesak ini berhasil menjatuhkan, meneteskan perlahan.... Di tengah malam begini, entah apa yang membuat gue terisak dalam diam. Haha ini semua tidak lain dan tidak bukan karena sang pemilik alur posting ini! Kakak pendahulu 1 tahun, si penulis surat! surat yang satu-satu nya surat yang bisa ngebuat gue meneteskan air mata.


Lagi-lagi dihadapkan sama perasaan abstrak ini. Sama orang-orang ini. 

Ah, teh :) Uhibbuki Fillah.


***
Akhirnya memilih melanjutkan aja hehe. Ga jadi deh pembuka posting yang ga penting nya. Tapi hari ini merasa bersyukur melewati sore yang sangat sesuatu bersama Regia :) Akhirnya bisa juga cerita hal unyu selain kerjaan sama Gia :p Mengetahui banyak hal. Semakin menambah daftar panjang alasan menyayangi Cakrawala :)

Cakrawala-ku
Nikmati lah, jalani!

Selamat! Bukan datang di waktu yang tidak tepat, tapi memang terkadang kita yang tidak siap! Hihi lucu deh. Semoga dengan ini semakin sayang loh sama OSIS nya yah para Cakrawala-ku :p

Yak. Mengingat sms teh Arin. Mengingat pertanyaan yang memaksa dari bocah-bocah itu. Hihi, hey Ibu! Bagaimana dengan dirimu? :) Beberapa sudah pernah tau alur nya kan. Tapi sedikit yang tau bagaimana kelanjutannya. Pada akhirnya, saya statis dan nyaman. Merasa tidak perlu merubah apapun, memperjelas apapun, mengakhiri apapun. Karena tidak ada salah nya dengan mengulur tali yang satu ini. Lebih nyaman karena sudah.... sama-sama mafhum :)
.
.
.
Iya kan? :p 


Where is the moment we needed the most? You kick up the leaves and the magic is lost, They tell me your blue skies fade to gray They tell me your passion's gone away, And I don't need no carryin' on. You stand in the line just to hit a new low, You're faking a smile with the coffee you go.. You tell me your life's been way off line. You're falling to pieces every time, And I don't need no carryin' on. 



cause you had a bad day You're taking one down, You sing a sad song just to turn it around, You say you don't know, You tell me don't lie, You work at a smile and you go for a ride. You had a bad day
The camera don't lie, You're coming back down and you really don't mind. 


:''' 





"Kalau Anda memutuskan melakukan sesuatu, jangan sebut itu sebagai pengorbanan karena tidak ada orang yang memaksa Anda melakukannya" -Aung San Suu Kyi-
 iya. Tidak ada.

Lalu?

Memoar.

Apa yah?

sekarang jam 1:00 

H-1 Opening SMANSADAY 2012.
And im still awake. Orang-orang di YM udah pada tidur. Dan gue terjebak antara bosen,ngantuk-ga ngantuk.
Sejujurnya ngantuk, tapi ga bisa tidur. Kenapa yah? Gatauuuu, sebenernya gue ga ada waktu untuk nge galau, posting random gini..... Ga ada sama sekali. Gue sibuk. Banget, ........harusnya.
Tapi, yahhhhh gini hasilnya. Sekarang gue malah nulis blog. Entahlah. Eh ngerasa ga sih, lu nge blog karena...... ada kepuasan tersendiri ketika orang berhasil tau perasaan lu. Tanpa lu ngomong langsung. Karena ketika lu nulis blog..... sadar ga sadar lu berharap orang yang lu tuju itu baca. Iyaga sih? Ga yah? oke *close enough*

ehem, balik lagi.
Seharusnya juga, gue bahkan ga punya waktu untuk merasa.............................kangen.
Yap, bisa-bisanya gue kangen disaat seperti ini. Tapi justru ya disaat seperti ini. Disaat lu seperti mengulang banyak perjalanan yang sama. Runut cerita yang sama, hanya dengan pelaku yang berbeda, tentunya.

Selalu ada 2 sisi dari setiap kejadian, seperti sekarang. Sebetulnya, 2 sisi itu tidak harus selalu bertentangan, antara bagus dan buruk, jahat dan baik. Bukan. Buat gue, 2 sisi ini cukup dengan..... menjalani dan rindu.
Jangan pernah sepelekan kata rindu/kangen. Karena itu yang sering membuat seseorang terjebak.
Gue tidak terjebak, sama sekali tidak.
Hanya saja................. ya itu tadi, kangen. Karena,
"Kenangan akan selalu datang begitu saja. Sekalipun kita ga mengenangnya"


Gue ga mau bahas siapa, subjek. Apapun itu. Tidak. Not yet. Karena ini bukan tentang siapa, tentang cerita apa. Bukan, tapi hanya memoar yang kembali menguak. Memoar yang kembali membuncah yang memaksa gue untuk menjalani keduanya.
Antara menjalani dan merindukan.

.
.
.
.
.
Nyaman.

#EdisiFIGHT&WIN

"Ketika lu sedang berada dalam himpitan tuntutan, sesungguhnya jangan menuntut hasil yang optimal.......ketika lu masih bisa terpejam lebih lama, masih bisa duduk santai nonton tv, masih bisa santai ngenet ga jelas. Bahwasanya itu menunjukan usaha lu belum optimal"
 Namun kita juga jangan lupa. Bahwasanya kita juga manusia. yang berhak merasakan jeda, yang berhak memenuhi keinginan badan untuk beristirahat sebentar. Bahwasanya itu bukan sesuatu yang salah untuk lu lakukan. Tapi, memang tidak pernah ada jeda untuk urusan yang satu ini. yang satu ini.

Gila yah, sekolah gue-smansa, seperti memasukkan gue ke kelas akselerasi. Kelas akselerasi yang ga akan lu temukan di denah sekolah, atau lu liat papan nama kelasnya. Bahwasanya, kelas ini sadar-tidak sadar mungkin lu menjadi salah satu penghuninya. Apa yang dimaksud akselerasi disini? ........... Buat gue,
akselerasi kedewasaan. Ketika lu dituntut untuk berfikir diatas umur lu, diminta untuk mengerti banyak hal, menerima banyak hal dan mengaplikasikan nya sesegera mungkin, diminta untuk melakukan hal-hal gila, kewajiban-kewajiban yang rasanya tidak mungkin dilakukan dalam waktu bersamaan.

Namun, bahwasanya juga. Lu akan menemukan diri lu,pada titik dimana lu ternyata bisa melewati itu.
Bisa melewati semua dengan keteguhan hati, keikhlasan, dan perasaan membuncah lainnya yang ga bisa lu jelaskan dengan kata-kata.
Peran lu sebagai  hamba Allah, anak, pelajar, teman, jabatan di segala ekskul/org lu. Ternyata bisa lu jalankan dengan baik. Dan ketika gue menulis ini, gue sedang berjalan, di jalan untuk menuju "gue bisa melewati itu"

Dan bahwasanya......proses ini. Gue ga bisa mengungkapkannya dengan kata-kata, selain, Alhamdulillah mungkin.Serangkaian cerita 2 tahun ini.......... di tempat kecil yang dikelilingi orang-orang berhati besar ini, seperti apa yah? seperti rumah. Ga heran jika para penghuni nya dulu masih sering merindukan rumah ini. Rumah yang membesarkan banyak orang-orang besar.

Spesifiknya, untuk gue. Rumah ini bernama OSIS.
Gue bingung kalau ada yang ngomong, "...karena kita OSIS, jadi harus..."
sejatinya gue ga begitu mengerti dengan definisi OSIS. Tapi OSIS lah yang mengajak gue untuk naik kelas. Naik kelas dalam banyak hal..........yang ga bisa gue tulis disini satu-satu.

Entahlah, seperti yang gue bilang tadi.
Gue gatau perasaan ini seperti apa, abstrak.
Tapi 4 kata itu, orang-orang di dalam 4 kata itu.....
adalah rumah buat gue.
Bahkan sekalipun sedang bete, marah ,kesel, kecewa, jenuh,
pada akhirnya gue akan balik lagi kesini. Ke tempat yang tanpa disadari menjadi rumah buat gue.

Entahlah, ini apa.
Umur gue 17 tahun. Gue bertemu banyak orang,cuman 2 tahun ini aja baru ketemu mereka-mereka.
Tapi rasanya................ sekarang seperti sudah mengenal mereka bertahun-tahun.
Menyayangi mereka bertahun-tahun.

OSIS bukan pilihan, buat gue. Bukan hal yang patut lu jadikan pilihan untuk dipilih. Karena apa yah? tempat ini telah memberi lu banyak hal.... dan bisakah sekarang saatnya kita yang memberi? :) Banyak sekali hal yang tanpa lu sadari sedikit banyak merubah hidup lu.
Entahlah, tapi karena OSIS................ gue bisa se gila ini :')
Untuk itu, tanpa memandang jabatan, gue selalu siap menjaga rumah ini. Ga perduli dengan banyak orang yang telah menemukan banyak definisi rumah nya sendiri. Bagi gue........ ya ini.

Untuk itu, untuk 68 ku, semoga kalian bisa menikmati masa-masa ini dengan baik. Jika kalian mau menikmati nya, tenggelam di dalamnya, maka akan banyak hal, banyak nilai yang bisa kalian temukan, bisa kalian ambil.
Dan untuk kamu, Masih untuk siapapun kamu. Semoga bisa menemukan rumah juga, disini. Rumah dengan kacamata yang sama dengan ku.


ps: mangat yah smansaday nya, Cakrawala. 
Membentang lah....seluas-luas nya.
"Sesungguhnya ada ☹ dibalik -Hahaha-"‎ 
why cant you realize? :)



Gue butuh ditampar.
Gue butuh didorong.
Gue butuh disiram.
Gue butuh ditarik, dan di lempar sejauh-jauhnya.
Gue butuh teriakan.
Lebih dari bisikkan kata "Semangat"
Lebih dari tulisan "semangat yah"
Lebih.
Lebih dari itu.


Bahkan gue bukan Nabil, yang bisa mengerti sendiri.
Mengerti bahwa titik pelajarannya itu "Bangun sendiri". Gue juga tidak dalam kondisi jatuh. Tidak. Tapi hanya, ini Gila. Entah bagaimana Regia bisa menuliskan semua kegilaannya dengan begitu tepat dan halus di dalam blognya. Entah bagaimana seorang Tama bisa begitu tenang di luar dan tampak tidak mengeluh dengan kegilaannya. Entah bagaimana seorang Tika bisa mengerjakan banyak hal dengan tepat dalam semua ke gilaannya. Entah terbuat dari apa seorang Luthfi dengan segala ke dewaannya. Entah bagaimana seorang Reta masih memikirkan banyak detail lain diluar kegilaannya.  


Entah bagaimana seorang gue, masih terus mengeluh. masih belum bisa mengerti satu dan lain hal. Kenapa ini, kenapa bisa, ko gitu, ko gini. Gue, cuman apa yah? ................... Gue kehilangan kepekaan di tengah hiruk pikuk ini. Ke pekaan terhadap satu-dua peran gue yang lain, di tempat lain.
Peran sebagai Hamba Allah, anak, adik, pelajar, koor acara, sekum. Bahkan, mungkin yang lebih dulu belum pernah ada di kondisi ini. Bukan, bukan perannya sekali lagi, tapi kondisinya.


Yang disana.................sulit sekali terjangkau.
Dia masih sibuk.
Sangat sibuk dengan dunianya, bahkan sampai lupa meneriakkan mantra kami, fight&win.


 

Ya Rabb, Why am I so emotional lately?

"Crying is a natural emotional response to certain feelings, usually sadness and hurt. But then people [also] cry under other circumstances and occasions" 


Dan yang gue maksud ungkapan emotional disini adalah menangis. Entahlah. I feel like..... I take things to heart to easily. I am just trying to figure out if this is "normal" and just part of my personality. Tapi ternyata ga semudah itu. Dan kenyataannya pun gue merasa tidak normal.  I cry really easily and feel hurt really easily. Untuk hal-hal yang simple, sama sekali tidak mengundang untuk ditangisi. Tapi gue juga membantah kalau dibilang sensitif banget lah, atau negatif thinking lah. Tidak, gue biasa aja. Tapi, itu tadi. rasanya air mata itu bagian terpisah dari diri gue. Dia... ga bisa di program, ga bisa diatur kapan harus 'keluar' kapan harus nahan. Tidak, gue baik-baik aja.... tapi sial nya, gue seringkali 'crying at stupid times'. Tapi gue juga bukan orang gila yang nangis dan ketawa tiba-tiba. Ga lah, serem banget. Tapi seringkali topik nya tuh sebenernya ga perlu-perlu banget buat ditangisin. Kadang...... memang ga perlu nangis. Tapi.......

Gue benci. Sama diri gue sendiri. Akhirnya, orang jadi seringkali salah sangka. Gue benci terlihat...... rapuh. Benci banget. Gue benci terlihat tidak baik-baik aja. Gue benci ketika orang tau kapan gue bobrok. Gue benci sama diri gue sendiri kalau udah kaya gini. Kadang gue merasa sangat baik-baik aja, tapi lagi-lagi gue nangis. Akhirnya orang jadi kesel liatnya mungkin. Akhirnya orang jadi nganggep berlebihan mungkin.
Gue peduli sama apa kata orang. Gue ga bisa ga peduli sama apa kata orang.  


Gue bukan orang yang.... -can't seem to forgive and forget about things that happen in the past- 
Seperti yang gue sering katakan di atas. Im normal. I am very happy with my life, friends, family and of course I have problems like everyone else. I use to be so happy,  I used to be fun.....but I'm not as happy as I use to be I don't know.


Ah gila, dari tadi ini ngomongin apaan sih? hahahahahaha. Akhiri aja deh, akhiri sebelum semua nya jadi amburadul. Gue ga serapuh deskripsi di posting ini kok. Mungkin gue juga sedang mengalami sebuah tahap yang dialami remaja pada umumnya, labil. Doain aja moga cepet sembuh :))


Bye!

kangen.

KANGEN SEKRETARIAT 
kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret kangen sekret

mereka juga harus merasakan. Harus. Harus tau rasa nyaman nya tempat ini, rumah ini. Tempat dulu kami berpulang. Katanya kami bisa tanpa tempat ini, itu bohong. Itu sulit. Pada kenyataannya, saya masih kangen memori di tempat ini. Kamu, pernah mencoba membangun tempat ini di -tempat lain- ? Tidak kan. Ah kamu. Ga ada ujung nya. 

Loncat.

Mungkin keadaan saya sama seperti siluet diatas. Loncat. Beda nya, dia loncat ke sebuah laut, dan Saya loncat di sebuah 'laut' yang lain. Meloncatkan diri dari satu laut ke laut lain. Laut Masalah, laut Perasaan. Sebelum meloncat saya tahu, laut itu dalam. Berbahaya. Bisa jadi saya ga bisa naik ke daratan lagi. Tapi yah itu, laut memiliki pesona tersendiri, meskipun kita tahu berbahaya, tapi...... tetap saja meloncat masuk. Rasanya, seperti... lu menemukan kenyamanan tersendiri, ketika berada di tempat berbahaya sekalipun, atau ketika akhirnya lu terlanjur tenggelam sekalipun.